MEMANG ADA BAPER YANG BISA BIKIN SUKSES?

Berani Memulai dan Berkomitmen Part. 3

Boleh dong ya kita bahas sedikit tentang Asian Games XVIII yang sedang hangat-hangatnya diadakan di Jakarta dan Palembang. Pembukaannya baru saja berlangsung pada 18 Agustus 2018. Apakah kita patut merasa bangga? Saya merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan serentak. Berasa “Garuda di Dadaku” ???
Di balik itu, tentu ada beban sebagai tuan rumah agar Indonesia aktif mengukir prestasi atau setidaknya menjadikannya momentum kebangkitan olahraga di negeri ini.

Prestasi yang berupa perolehan medali emas amat penting karena akan dikenang sepanjang masa. Kita mesti memetik pelajaran dari Asian Games IV pada 1962 di Jakarta. Saat itu, Indonesia meraih sukses ganda: berhasil sebagai penyelenggara sekaligus mengukir prestasi tinggi. Kita bertengger sebagai runner-up di bawah Jepang, yang menjadi juara umum. Tapi prestasi gemilang itu tidak langgeng. Di Asian Games V di Bangkok pada 1966, negara kita hanya berada di posisi ke-7. Empat tahun kemudian, pada Asian Games VI di tempat yang sama, posisi kita melorot lagi ke urutan ke-9. Hingga kini pun Indonesia masih jauh tertinggal dalam prestasi olahraga. Dalam setiap Asian Games, prestasi rata-rata Indonesia tak lebih dari 8 medali emas. Itu sebabnya target masuk 10 besar dalam Asian Games kali ini terasa muluk. Dengan target ini, para atlet kita harus meraih 16-20 medali emas.

Di Asian Games 1962 yang digelar pada era Presiden Sukarno, Mohamad Sarengat dan kawan-kawan begitu perkasa. Mereka meraih 21 emas, 26 perak, dan 30 perunggu. Kontingen kita menangguk banyak emas dari bulu tangkis, lari jarak pendek, balap sepeda, dan loncat indah. Nama Sarengat melambung karena ia menjadi manusia tercepat di Asia. Ia meraih medali emas untuk nomor lari 100 meter dan lari gawang 110 meter.

Hingga kini pun Indonesia masih jauh tertinggal dalam prestasi olahraga. Dalam setiap Asian Games, prestasi rata-rata Indonesia tak lebih dari 8 medali emas. Itu sebabnya target masuk 10 besar dalam Asian Games kali ini terasa muluk. Dengan target ini, para atlet kita harus meraih 16-20 medali emas. Untuk mengejar misi itu, pemerintah memasukkan cabang olahraga non-Olimpiade, seperti bridge, paralayang, dan pencak silat. Kemenangan olahraga tak terukur relatif mudah karena ditentukan oleh juri. Masalahnya, kalau juri terlalu memihak tuan rumah, kita bisa dicemooh negara lain.

Pemerintah boleh menggelar Asian Games dengan penuh gegap-gempita. Namun, setelahnya, jangan mengulang kesalahan masa lalu: melupakan pembinaan olahraga. Tanpa pembinaan yang terus-menerus, kita tak mampu melanjutkan prestasi Sarengat dan kawan-kawan.

Lalu bagaimana dengan regenarasi Indonesia saat ini? ??

Zaman sekarang sangat mudah untuk mengetahui karakteristik seseorang, tinggal lihat sosmednya kita bisa langsung menilai bagaimana kepribadian seseorang tersebut.

Coba kita lihat hasil postingan mereka.. Ada sebuah keseragaman isu. Hal baiknya mereka sangat komit dengan pemikirannya yang mendalam (istilah kerennya BAPER atau Bawa Perasaan) hanya saja ruang lingkupnya masih sebatas hubungan sempit antara satu dan dua pihak saja.

Baper yang baik adalah di mana kita bisa membawa angan-angan yang kita miliki lalu dituangkan dalam tulisan dan direliasasikan dengan tindakan.

Mengapa harus seperti itu, karena dengan catatan yang kita tinggalkan, kita bisa membuat rumus histori apa yang pernah kita capai, dan menghindari kesalahan yang pernah kita buat.

Sebut saja Mba Amelia Tresnawaty Pembuat Brownies Panggang ternama yang sukses berjualan bermula di daerah Jakarta Selatan, dia harus “Baper” dalam memikirkan bagaiamana kelangsungan hidup anak dan keluarganya kelak.

Resep dan catatan penting apa yang harus ditinggalkan kepada para penerus usahanya sehingga tekstur dan rasa kue Brownies ciptaanya tidak berganti, tetap JUARA ???

Apa saja yang prinsip, ilmu, metode serta sikap yang harus ditanamkan sejak dini dan bagaiamana cara dia melatih para pegawainya agar usaha yang telah iya bangun tetap berjalan dan tidak bergeser malah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi ?:)

Silahkan sharing, saya yakin di sini banyak yang lebih sukses ? aamiin

Semangat!

Sumber: Opini Majalah Tempo Ed. 20-26 Agustus2018

#SelasaKamisSharing
#SharingIsCaring
#ScaleUp

Powered by StoryChief

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
Malcare WordPress Security